Sebelumnya saya pikir budaya membolos itu hanya dilakukan oleh anak-anak sekolah saja yang ketika merasa bosan mengikuti rutinitas sekolah akhirnya membuat budaya bolos demi menghilangkan kejenuhan tersebut. Tetapi ternyata ga’ Cuma anak sekolah yang identik dengan bolos-membolos, para elit politik sampai pegawai pemerintahan pun tidak mau kalah dengan anak sekolah dalam hal membudayakan membolos.
Baru-baru ini marak pemberitaan tentang anggota dewan yang mangkir dari tugas, sering tidak datang ketika rapat paripurna atau rapat untuk mengesahkan rancangan Undang-Undang (RUU) alias bolos atau absensi siluman, tandatangan ada tapi wujudnya tidak ada. Saya pun teringat budaya yang sama dikampus ketika cukup banyak teman-teman yang tidak mengikuti perkuliahan dengan berbagai macam alasan, dosen killer, sakit, malas atau sekedar mojok alias pacaran sering menitipkan pesan kepada teman lain yang mengikuti perkuliahan : “eh nitip absen ya” baik lewat SMS atau bicara langsung. Berhubung dosen yang bersangkutan tidak terlalu meneliti keaslian tandatangan mahasiswanya maka tidak ada masalah walaupun yang rugi ya mahasiswa…tapi ada dosen yang memenuhi ebsensi mahasiswa dengan pemanggilan nama..nah kalo yang ini pastilah ketahuan ada tandatangan aspal alias ali tapi palsu.
Kembali ke dewan, mungkin hampir mirip saja ketika tiba-tiba tandatangan anggota dewan ada tapi wujud fisiknya tidak ada, lalu apa alasan mereka mangkir dari tugas padahal mereka adalah perwakilan dari rakyat yang seharusnya menyuarakan aspirasi rakyat? Padahal lagi, tuntutan anggota dewan sangat banyak mulai dari kenaikan gaji, tunjangan sampai fasilitas yang lain yang sangat menghabiskan anggaran Negara yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat, tapi pekerjaan yang mereka lakukan hanya duduk santai, sedikit bicara bahkan sampai berani membolos dari tugasnya !
Nah selain anggota dewan yang terhormat yang juga punya budaya bolos, ada juga pegawai pemerintahan yang punya “hobi” sama dengan anggota dewan..ketika berbelanja ke pasar, saya pastikan ada saja PNS “nakal” yang berkeliaran di Pasat, tidak hanya para ibu tapi juga bapak-bapak, entah apakah ada hubungan antara pekerjaan mereka dengan pasar, padahal jam ditangan saya masih menunjukkan pukul 11 siang, dan setau saya waktu istirahat bagi pegawai pemerintahan itu jam 12 siang. Entah mungkin di kantor setempat sedang tidak ada pekerjaan atau apa, tapi yang jelas bukankah kantor pemerintahan itu tugasnya adalah melayani kebutuhan masyarakat, jadi kalo ada masyarakat yang tiba-tiba datang ke kantor pemerintahan tersebut untuk mengurusi sesuatu yang sangat penting tapi si pegawai tidak berada ditempat, bukankah itu sangat merugikan masyarakat yang bersangkutan? Iya kalo tidak berada ditempat karena urusan dinas luar tapi kalo dinas luar yang terselubung?
Pemerintahan sekarang kan mencanangkan system pelayanan “good governance” dimana setiap kantor pemerintahan mulai dari bawah sampai pusat harus mampu menciptakan pelayanan terbaik bagi masyarakat yang membutuhkan terutama kenyamanan dalam mendapatkan pelayanan…tapi kalo sering terlihat pegawai yang membolos pada jam kerja gimana dong? Entah apakah kepala pemerintahan setempat sudah punya sanksi untuk pegawainya yang sering keluar pada saat jam kerja diluar pekerjaannya, kalo memang punya mungkin kalo saya tiba-tiba “sidak” alias inspeksi mendadak ke Pasar pada jam kerja dan masih melihat PNS yang berkeliaran berarti memang kepala pemerintahannya yang tidak tegas dan terkesan tidak peduli atau mungkin kepala pemerintahannya juga punya “hobi” yang sama dengan para staf-nya?
Saya pikir baik anggota dewan maupun pegawai pemerintahan masing-masing sudah punya kode etik sendiri dan aturan serta sanksi yang harus diterapkan, toh jika memang sedang tidak ada pekerjaan itu tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk meninggalkan tempat kerja kan? Apalah lagi bagi anggota dewan, disana mereka membawa nama rakyat tapi kalo suka bolos juga saya sarankan jangan lagi memilih anggota dewan tersebut pada Pemilu 2009 nanti ! satu hal yang saya pikir sangat efektif membuat jera anggota dewan adalah dengan mengumumkan kepada rakyat siapa saja si “raja bolos”..malu..malu deh.. biar rakyat tahu dan tertutuplah kemungkinan anggota tersebut akan terpilih lagi nantinya..wong anak sekolah aja yang suka bolos kena setrap berdiri ditiang bendera..apalah lagi buat anggota dewan..harus lebih “tragis” lagi hukumannya
Categories |
LabelsArsip Blog
|
Minggu, 22 Februari 2009
Jadi Pengusaha aja ah...
Habis lulus kuliah mau ngapain ya? Sebuah pertanyaan yang mengandung beban cukup berat bagi yang baru wisuda jadi sarjana, ada banyak pilihan sih..mau cari kerja, mau langsung nikah atau nunggu nasib aja alias nganggur.
Desember 2008 lalu ramai sekali dengan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) serentak di seluruh Indonesia, tak ketinggalan keluarga yang baru lulus dan yang sudah lama lulus kuliah antusias sekali untuk mendaftarkan diri dan bersaing dengan ribuan pendaftar yang lain, begitu pun dengan teman-teman saya yang fresh graduate dari kampusnya. Saya dulu juga pernah mendaftar menjadi PNS tapi waktu itu masih lulusan SMA dan itupun hasil “lobi” dari orang tua saya yang menginginkan agar anak-anaknya sukses menjadi PNS..saya sih agak terpaksa mengikutinya, bergerombol untuk mendapatkan nomor ujian sangat tidak mengenakkan buat saya, tapi demi sekedar menyenangkan hati orangtua akhirnya saya pasrah saja. Setelah mengikuti tes masuk, saya dinyatakan tidak lulus menjadi PNS dan saat itu tidak ada reaksi yang menyedihkan dari saya karena memang saya tidak sepenuh hati mengikuti CPNS ini apalagi saya masih berkeinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi formal.
Kembali pada cerita kerabat-kerabat saya, akhir Januari 2009 ini akan diumumkan siapa saja yang berhasil sukses menapaki hidup menjadi PNS, yang berhasil akhirnya bisa hidup tenang tanpa harus berpikir lagi kemana akan bekerja, namun bagi yang tidak berhasil ya…Kacian Deh Loo!!
Sebenarnya bukan maksud saya meremehkan pekerjaan sebagai PNS, bekerja sebagai PNS memang sangat menjanjikan bahkan pada saatnya pensiun kita akan tetap terima gaji kan? Artinya hidup kita sudah terjamin tinggal menikmati masa tua saja lagi. Tapi bagi saya pribadi, menjadi PNS bukan sebuah pekerjaan yang terlalu menyenangkan bahkan terkesan monoton karena rutinitas kerja yang dijalani tiap hari hampir selalu sama, dan sepertinya tidak ada ruang untuk berinovasi dan berkreasi disana sekedar menghilangkan rasa jenuh. Dan bagi saya, tidak adanya ruang untuk berkreasi itu sangat menyiksa sekali, tetapi jika kita bekerja di sebuah kantor swasta atau bahkan menjadi pengusaha sendiri, kita bebas untuk mengasah pemikiran dan melahirkan ide-ide yang inovatif untuk mengembangkan usaha bahkan sampai melahirkan ide-ide konyol sekalipun, kalo jadi PNS..saya tidak pernah melihat itu…hampir tidak ada dalam rencana hidup saya ke depan setelah selesai menjalani pendidikan di perguruan tinggi, hal utama yang saya pikirkan sekrang adalah saya mau menjadi apa dulu nantinya? Melihat potensi saya yang cukup bagus sebagai penulis (maaf..agak narsis) punya peluang cukup besar untuk menjadi penulis professional yang komitmen menghasilkan karya-karya besar, atau mau coba-coba merintis karir menjadi jurnalis (itu cita-cita dari lubuk hati terdalam..hiks), tetapi melihat latar balakang pendidiakn formal saya dibidang IT (teknologi informasi) saya pun berkeinginan menjadi seorang pekerja dibidang tersebut entah jadi programmer atau analist system walaupun saya mengakui agak lemah dalam teori bahasa pemprograman. Tapi saya pun punya kesempatan untuk menjalani dua profesi tersebut, jadi ahli IT sekaligus penulis! Yang pasti keinginan terbesar saya adalah tidak akan mencari pekerjaan tapi bagaimana caranya agar saya pun masuk dalam daftar orang-orang yang berhasil menciptakan lapangan kerja mengingat apakah mungkin pada tahun 2010-2011 (target lulus saya) krisis ekonomi global akan segera berakhir atau jangan-jangan malah tambah parah sehingga mencari pekerjaan pun sangat sulit sekali.
Yang pasti lagi, saya bercita-cita ingin menjadi pengusaha saja istilah kerenya wanita karir tapi tetap menjadi menjalani kewajiban sebagai Ibu rumah tanggan nantinya, saya sudah cukup sering melihat pengusaha-pengusaha yang berhasil merintis karir tentu saja mulai dari usaha nol besar dan diiringi oleh perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit, juga harus mempunyai mental baja agar ketika mengahdapi kendala tidak cepat jatuh dan terpuruk tetapi justru keterpurukan menjadikannya bangkit dan bangkit untuk terus berusaha merubah keadaan, kalo mentalnya “anak mami” sih mending ke laut aja ya!
Pertanyaannya sekarang, apakah saya mampu membentuk karakter bermental baja yang siap meniti karir dari bawah sekali sampai akhirnya berhasil menjadi seorang pengusaha yang sukses? Makanya itu, dari sekarangpun saya sedang berusaha untuk membentuk karakter seperti itu, dan itu saya mulai coba-coba membuat usaha kecil sambil mengasah jiwa wirausaha yang ada dalam diri saya seperti yang pernah saya pelajari di SMA dulu. Yang pasti bekerja untuk orang lain itu tidak selamanya enak ko’..dan coba deh singkirkan dulu cita-cita menjadi PNS setelah lulus dari kuliah, coba untuk mengembangkan diri dulu, sebelum lulus tidak ada salahnya memikirkan apa yang kita kerjakan nanti setelah menyandang gelar sarjana, mumpung masih muda dan saya yakin jiwa muda itu penuh dengan pikiran-pikiran yang kreatif dan inovatif..jadi PNS sih bisa jadi alternatif tapi kalo bisa posisinya harus berada diurutan paling bawah.
Desember 2008 lalu ramai sekali dengan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) serentak di seluruh Indonesia, tak ketinggalan keluarga yang baru lulus dan yang sudah lama lulus kuliah antusias sekali untuk mendaftarkan diri dan bersaing dengan ribuan pendaftar yang lain, begitu pun dengan teman-teman saya yang fresh graduate dari kampusnya. Saya dulu juga pernah mendaftar menjadi PNS tapi waktu itu masih lulusan SMA dan itupun hasil “lobi” dari orang tua saya yang menginginkan agar anak-anaknya sukses menjadi PNS..saya sih agak terpaksa mengikutinya, bergerombol untuk mendapatkan nomor ujian sangat tidak mengenakkan buat saya, tapi demi sekedar menyenangkan hati orangtua akhirnya saya pasrah saja. Setelah mengikuti tes masuk, saya dinyatakan tidak lulus menjadi PNS dan saat itu tidak ada reaksi yang menyedihkan dari saya karena memang saya tidak sepenuh hati mengikuti CPNS ini apalagi saya masih berkeinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi formal.
Kembali pada cerita kerabat-kerabat saya, akhir Januari 2009 ini akan diumumkan siapa saja yang berhasil sukses menapaki hidup menjadi PNS, yang berhasil akhirnya bisa hidup tenang tanpa harus berpikir lagi kemana akan bekerja, namun bagi yang tidak berhasil ya…Kacian Deh Loo!!
Sebenarnya bukan maksud saya meremehkan pekerjaan sebagai PNS, bekerja sebagai PNS memang sangat menjanjikan bahkan pada saatnya pensiun kita akan tetap terima gaji kan? Artinya hidup kita sudah terjamin tinggal menikmati masa tua saja lagi. Tapi bagi saya pribadi, menjadi PNS bukan sebuah pekerjaan yang terlalu menyenangkan bahkan terkesan monoton karena rutinitas kerja yang dijalani tiap hari hampir selalu sama, dan sepertinya tidak ada ruang untuk berinovasi dan berkreasi disana sekedar menghilangkan rasa jenuh. Dan bagi saya, tidak adanya ruang untuk berkreasi itu sangat menyiksa sekali, tetapi jika kita bekerja di sebuah kantor swasta atau bahkan menjadi pengusaha sendiri, kita bebas untuk mengasah pemikiran dan melahirkan ide-ide yang inovatif untuk mengembangkan usaha bahkan sampai melahirkan ide-ide konyol sekalipun, kalo jadi PNS..saya tidak pernah melihat itu…hampir tidak ada dalam rencana hidup saya ke depan setelah selesai menjalani pendidikan di perguruan tinggi, hal utama yang saya pikirkan sekrang adalah saya mau menjadi apa dulu nantinya? Melihat potensi saya yang cukup bagus sebagai penulis (maaf..agak narsis) punya peluang cukup besar untuk menjadi penulis professional yang komitmen menghasilkan karya-karya besar, atau mau coba-coba merintis karir menjadi jurnalis (itu cita-cita dari lubuk hati terdalam..hiks), tetapi melihat latar balakang pendidiakn formal saya dibidang IT (teknologi informasi) saya pun berkeinginan menjadi seorang pekerja dibidang tersebut entah jadi programmer atau analist system walaupun saya mengakui agak lemah dalam teori bahasa pemprograman. Tapi saya pun punya kesempatan untuk menjalani dua profesi tersebut, jadi ahli IT sekaligus penulis! Yang pasti keinginan terbesar saya adalah tidak akan mencari pekerjaan tapi bagaimana caranya agar saya pun masuk dalam daftar orang-orang yang berhasil menciptakan lapangan kerja mengingat apakah mungkin pada tahun 2010-2011 (target lulus saya) krisis ekonomi global akan segera berakhir atau jangan-jangan malah tambah parah sehingga mencari pekerjaan pun sangat sulit sekali.
Yang pasti lagi, saya bercita-cita ingin menjadi pengusaha saja istilah kerenya wanita karir tapi tetap menjadi menjalani kewajiban sebagai Ibu rumah tanggan nantinya, saya sudah cukup sering melihat pengusaha-pengusaha yang berhasil merintis karir tentu saja mulai dari usaha nol besar dan diiringi oleh perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit, juga harus mempunyai mental baja agar ketika mengahdapi kendala tidak cepat jatuh dan terpuruk tetapi justru keterpurukan menjadikannya bangkit dan bangkit untuk terus berusaha merubah keadaan, kalo mentalnya “anak mami” sih mending ke laut aja ya!
Pertanyaannya sekarang, apakah saya mampu membentuk karakter bermental baja yang siap meniti karir dari bawah sekali sampai akhirnya berhasil menjadi seorang pengusaha yang sukses? Makanya itu, dari sekarangpun saya sedang berusaha untuk membentuk karakter seperti itu, dan itu saya mulai coba-coba membuat usaha kecil sambil mengasah jiwa wirausaha yang ada dalam diri saya seperti yang pernah saya pelajari di SMA dulu. Yang pasti bekerja untuk orang lain itu tidak selamanya enak ko’..dan coba deh singkirkan dulu cita-cita menjadi PNS setelah lulus dari kuliah, coba untuk mengembangkan diri dulu, sebelum lulus tidak ada salahnya memikirkan apa yang kita kerjakan nanti setelah menyandang gelar sarjana, mumpung masih muda dan saya yakin jiwa muda itu penuh dengan pikiran-pikiran yang kreatif dan inovatif..jadi PNS sih bisa jadi alternatif tapi kalo bisa posisinya harus berada diurutan paling bawah.
Jumat, 20 Februari 2009
Susahnya menuntut komitmen
Saya baru tahu, bahwa tidak selamanya komitmen itu mampu mengikat seseorang secara penuh, dan ternyata sangat susah ketika kita ingin menuntut komitmen tersebut agar dibuktikan secara nyata.
Bahkan bagi seorang aktivis dakwah, yang sebenarnya memahami betul apa itu komitmen, tapi terkadang komitmen itu hanya berlaku untuk dirinya sendiri dan orang lain tidak berhak untuk menuntut apapun dari komitmen itu. Akibatnya dia merasa bebas untuk menjalankan atau melanggar komitmen yang sudah ada tersebut tanpa merasa terikat oleh apapun. Dalam hal berorganisasi baik formal maupun non formal yang namanya komitmen itu sangat penting, dimana dari komitmen tersebut kita dapat melihat sebesar apa loyalitas orang-orang yang berada didalamnya. Saya mencoba membandingkan organisasi yang ada dilingkungan kampus saya ayang memang punya perbedaan agak mencolok yaitu organisasi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dengan Rohis kampus, tentu saja ini berdasarkan pengalaman saya sendiri ketika menjalani aktivitas di dua organisasi tersebut. Ketika di BEM, komitmen itu sangat penting agar tujuan dari organisasi BEM itu dapat tercapai dan itu dibuktikan dengan datangnya semua anggota pada saat rapat, pada saat memberikan pendapat dan sebagainya, intinya terikat atau tidak anak-anak BEM memang punya loyalitas tinggi terhadap BEM tanpa perlu dipaksa. Bandingkan dengan keadaan manajemen organisasi Rohis, ketika waktunya syuro’ saja masih ada alasan bagi kadernya untuk tidak menghadiri syuro tersebut sekalipun tidak dalam keadaan yang syar’I, ketika tidak datang pada suatu kegiatan maka para mas’ul harus menguras otak agar si kader kembali aktif di Rohis, intinya terkadang kader-kader di Rohis perlu dimanjakan agar dapat menjalankan amanah yang sudah diberikan. Perbandingan lagi, ketika di BEM jika ada anggota yang melanggar peraturan maka harus diberi sanksi atau dikeluarkan dari BEM, sedangkan jika di Rohis, para mas’ul harus bekerja keras agar dapat mempertahankan kader yang bermasalah.
Pengalaman pribadi saya, saya sampai harus banyak mengurut dada ketika menangani kader-kader Rohis yang “bermasalah”, pada saat awal mereka mengisi lembar biodata selalu ada pertanyaan bagaimana komitmen mereka terhadap Rohis dan rata-rata mereka ingin agar Rohis ini semakin meningkat kinerja dan prestasinya, tapi ternyata komitmen tidak bisa dijadikan sebagai pegangan bahwa mereka akan benar-benar mengaktifkan Rohis dengan baik, dan sayangnya saya tidak bisa berbuat apa-apa, mau menuntut komitmen mereka jangan-jangan mereka malah lari meninggalkan dakwah. Itulah yang sering membuat saya heran dan bingung, kenapa orang-orang yang belum tertarbiyah saja mengerti betul apa itu komitmen dan sebesar apa pentingnya komitmen itu, sedangkan orang-orang yang tertarbiyah masih banyak yang sepertinya merasa tidak perlu terlalu terikat pada sebuah komitmen, tergantung mood-nya saja, kalau merasa sedang bersemangat ya aktif di Rohis tapi kalo sedang bad mood apa mau dikata? Padahal kita yang sudah tertarbiyah seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi yang masih amah kan? Tapi terkadang justru kinerja kita selama ini tidak lebih baik dari mereka yang masih amah, inilah yang kemudian membuat saya mengerti kenapa masih banyak organisasi dakwah itu tidak mengalami peningkatan dalam hal eksistensi dan prestasi jika orang-orang didalamnya saja tidak mau mempunyai sebuah komitmen yang bersifat permanen, padahal sudah mengerti bahwa amanah itu sekecil apapun akan dipertanggungjawabkan, buat apa ketika dalam suatu daurah rekrutmen kita berikrar atas nama Allah untuk memberikan yang terbaik bagi keberlangsungan dakwah jika ternyata ikrar itu dengan mudah kita langgar dan abaikan begitu saja, ikrar yang menjadikan Allah dan RasulNya sebagai saksi saja tidak membuat kita memiliki komitmen yang mengikat dalam membangun dakwah, jika seperti itu masih pantas jika kita menyebut diri kita adalah pejuang-pejuang Allah? para shahabat saja menjadikan bai’at kepada Rasul sebagai sebuah janji yang tidak boleh dilanggar, apalah lagi janji dan komitmen mereka terhadap Allah untuk menegakkan kalimatNya dimuka bumi, dan itulah bentuk komitmen para shahabat sampai akhirnya mereka berhasil membuat Islam menjadi besar, kalo para aktivis dakwah sekarang saja masih susah untuk dituntut komitmennya, lalu kapan kemenangan itu akan diraih? Wallahualam bish shawab
Bahkan bagi seorang aktivis dakwah, yang sebenarnya memahami betul apa itu komitmen, tapi terkadang komitmen itu hanya berlaku untuk dirinya sendiri dan orang lain tidak berhak untuk menuntut apapun dari komitmen itu. Akibatnya dia merasa bebas untuk menjalankan atau melanggar komitmen yang sudah ada tersebut tanpa merasa terikat oleh apapun. Dalam hal berorganisasi baik formal maupun non formal yang namanya komitmen itu sangat penting, dimana dari komitmen tersebut kita dapat melihat sebesar apa loyalitas orang-orang yang berada didalamnya. Saya mencoba membandingkan organisasi yang ada dilingkungan kampus saya ayang memang punya perbedaan agak mencolok yaitu organisasi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dengan Rohis kampus, tentu saja ini berdasarkan pengalaman saya sendiri ketika menjalani aktivitas di dua organisasi tersebut. Ketika di BEM, komitmen itu sangat penting agar tujuan dari organisasi BEM itu dapat tercapai dan itu dibuktikan dengan datangnya semua anggota pada saat rapat, pada saat memberikan pendapat dan sebagainya, intinya terikat atau tidak anak-anak BEM memang punya loyalitas tinggi terhadap BEM tanpa perlu dipaksa. Bandingkan dengan keadaan manajemen organisasi Rohis, ketika waktunya syuro’ saja masih ada alasan bagi kadernya untuk tidak menghadiri syuro tersebut sekalipun tidak dalam keadaan yang syar’I, ketika tidak datang pada suatu kegiatan maka para mas’ul harus menguras otak agar si kader kembali aktif di Rohis, intinya terkadang kader-kader di Rohis perlu dimanjakan agar dapat menjalankan amanah yang sudah diberikan. Perbandingan lagi, ketika di BEM jika ada anggota yang melanggar peraturan maka harus diberi sanksi atau dikeluarkan dari BEM, sedangkan jika di Rohis, para mas’ul harus bekerja keras agar dapat mempertahankan kader yang bermasalah.
Pengalaman pribadi saya, saya sampai harus banyak mengurut dada ketika menangani kader-kader Rohis yang “bermasalah”, pada saat awal mereka mengisi lembar biodata selalu ada pertanyaan bagaimana komitmen mereka terhadap Rohis dan rata-rata mereka ingin agar Rohis ini semakin meningkat kinerja dan prestasinya, tapi ternyata komitmen tidak bisa dijadikan sebagai pegangan bahwa mereka akan benar-benar mengaktifkan Rohis dengan baik, dan sayangnya saya tidak bisa berbuat apa-apa, mau menuntut komitmen mereka jangan-jangan mereka malah lari meninggalkan dakwah. Itulah yang sering membuat saya heran dan bingung, kenapa orang-orang yang belum tertarbiyah saja mengerti betul apa itu komitmen dan sebesar apa pentingnya komitmen itu, sedangkan orang-orang yang tertarbiyah masih banyak yang sepertinya merasa tidak perlu terlalu terikat pada sebuah komitmen, tergantung mood-nya saja, kalau merasa sedang bersemangat ya aktif di Rohis tapi kalo sedang bad mood apa mau dikata? Padahal kita yang sudah tertarbiyah seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi yang masih amah kan? Tapi terkadang justru kinerja kita selama ini tidak lebih baik dari mereka yang masih amah, inilah yang kemudian membuat saya mengerti kenapa masih banyak organisasi dakwah itu tidak mengalami peningkatan dalam hal eksistensi dan prestasi jika orang-orang didalamnya saja tidak mau mempunyai sebuah komitmen yang bersifat permanen, padahal sudah mengerti bahwa amanah itu sekecil apapun akan dipertanggungjawabkan, buat apa ketika dalam suatu daurah rekrutmen kita berikrar atas nama Allah untuk memberikan yang terbaik bagi keberlangsungan dakwah jika ternyata ikrar itu dengan mudah kita langgar dan abaikan begitu saja, ikrar yang menjadikan Allah dan RasulNya sebagai saksi saja tidak membuat kita memiliki komitmen yang mengikat dalam membangun dakwah, jika seperti itu masih pantas jika kita menyebut diri kita adalah pejuang-pejuang Allah? para shahabat saja menjadikan bai’at kepada Rasul sebagai sebuah janji yang tidak boleh dilanggar, apalah lagi janji dan komitmen mereka terhadap Allah untuk menegakkan kalimatNya dimuka bumi, dan itulah bentuk komitmen para shahabat sampai akhirnya mereka berhasil membuat Islam menjadi besar, kalo para aktivis dakwah sekarang saja masih susah untuk dituntut komitmennya, lalu kapan kemenangan itu akan diraih? Wallahualam bish shawab
Jadi Penulis euy...
Setelah cukup lama bertarung dengan jiwa yang terkekang, akhirnya aku mulai berani mempublikasikan suara hatiku melalui goresan di dunia maya.
Sebelumnya aku lebih suka membuatkan blog untuk organisasi yang kuikuti, kalo masalah mengeksistensikan diri, aku sering menulis ke berbagai media massa, lumayan lah..cukup banyak tulisanku yang dimuat, kebanyakan tentang isu sosial dan politik karena memang karakterku yang sangat kritis.
Menulis merupakan sebuah potensi yang dianugerahkan Tuhan kepadaku, dulu rasanya Cuma iseng membuat cerpen anak-anak saat masih SMP, dan respon teman-teman sangat positif sekali, mereka sering menagih cerpen padaku, awalnya inspirasiku lahir dari membaca, malah kadang cerpen hasil karyaku hanya merupakan sebuah editan dari cerita aslinya. Namun aku juga punya hobi lain yaitu berimajinasi, apapun yang sering aku lihat dan dengar maka mulailah imajinasiku dimulai dan mengalir begitu saja cerita-cerita dalam kepalaku.
Sejak SMA, keaktifan menulisku sudah hampir tidak ada, tapi aku masih suka dengan pelajaran Bahasa Indonesia terutama mengarang, potensi menulis itu masih mengakar kuat dalam diriku, buktinya daya nalarku semakin besar, makanya ketika ujian teori aku lebih suka jika jawabannya bukan dari teks buku tapi hasil dari nalar.
Aku masih suka iseng menulis, kadang tentang cinta atau yang lain, maklum sudah remaja alias ABG, mulai mengalami masa puber, tapi aku masih mengandalkan tulisanku dalam sebuah buku harian, agak melankolis sekali padahal karakterku tidak terlalu feminim alias lumayan tomboy! Tapi agak capek juga menulis di buku harian apalagi jika semua pikiranku tertuang habis disana lengkap dengan emosi entah marah, sedih atau senang.
Sekarang, saat mulai menata hidup baru sebagai anak kuliahan, dan sudah menemukan jati diri yang sebenarnya, aku mulai lagi mengasah kemampuan menulisku kali ini lebih serius..dan aku baru sadar, kenapa baru sekarang aku mau serius mendalami dunia tulis menulis ini? Bidang akademik pun tidak berhubungan dengan dunia menulis, kuliah Komputer! Harusnya aku ahli dalam bidang IT kan, tapi rasanya hatiku belum sinkron dengan bidang akademik ini meskipun aku sangat menyukai teknologi dan berharap suatu hari nanti aku mampu menciptakan sesuatu teknologi yang sangat bermanfaat bagi umat manusia. Sekarang sejak aktif menulis lagi, pikiranku tentang masa depan yang akan kujalani kelak jadi berubah, aku ingin menjadi seorang ahli IT, tapi juga ingin menjadi seorang jurnalis atau minimal sebagai penulis sejati yang mampu melahirkan mahakarya yang besar…
Bagiku menjadi apapun kelak yang penting apa yang kita lakukan dan hasilkan membawa manfaat besar bagi umat manusia, terlebih diri sendiri dan keluarga. Cita-cita bukan hanya untuk menghasilkan uang kan?
Dan akhirnya, aku memilih untuk mengembangkan apapun potensi yang sudah dikaruniakan Tuhan padaku..dengan keseriusan tentu saja. Karena bagiku ketika kita mengacuhkan potensi yang ada, bisa saja potensi itu kemudian pergi dan tidak akan kembali lagi.
Sebelumnya aku lebih suka membuatkan blog untuk organisasi yang kuikuti, kalo masalah mengeksistensikan diri, aku sering menulis ke berbagai media massa, lumayan lah..cukup banyak tulisanku yang dimuat, kebanyakan tentang isu sosial dan politik karena memang karakterku yang sangat kritis.
Menulis merupakan sebuah potensi yang dianugerahkan Tuhan kepadaku, dulu rasanya Cuma iseng membuat cerpen anak-anak saat masih SMP, dan respon teman-teman sangat positif sekali, mereka sering menagih cerpen padaku, awalnya inspirasiku lahir dari membaca, malah kadang cerpen hasil karyaku hanya merupakan sebuah editan dari cerita aslinya. Namun aku juga punya hobi lain yaitu berimajinasi, apapun yang sering aku lihat dan dengar maka mulailah imajinasiku dimulai dan mengalir begitu saja cerita-cerita dalam kepalaku.
Sejak SMA, keaktifan menulisku sudah hampir tidak ada, tapi aku masih suka dengan pelajaran Bahasa Indonesia terutama mengarang, potensi menulis itu masih mengakar kuat dalam diriku, buktinya daya nalarku semakin besar, makanya ketika ujian teori aku lebih suka jika jawabannya bukan dari teks buku tapi hasil dari nalar.
Aku masih suka iseng menulis, kadang tentang cinta atau yang lain, maklum sudah remaja alias ABG, mulai mengalami masa puber, tapi aku masih mengandalkan tulisanku dalam sebuah buku harian, agak melankolis sekali padahal karakterku tidak terlalu feminim alias lumayan tomboy! Tapi agak capek juga menulis di buku harian apalagi jika semua pikiranku tertuang habis disana lengkap dengan emosi entah marah, sedih atau senang.
Sekarang, saat mulai menata hidup baru sebagai anak kuliahan, dan sudah menemukan jati diri yang sebenarnya, aku mulai lagi mengasah kemampuan menulisku kali ini lebih serius..dan aku baru sadar, kenapa baru sekarang aku mau serius mendalami dunia tulis menulis ini? Bidang akademik pun tidak berhubungan dengan dunia menulis, kuliah Komputer! Harusnya aku ahli dalam bidang IT kan, tapi rasanya hatiku belum sinkron dengan bidang akademik ini meskipun aku sangat menyukai teknologi dan berharap suatu hari nanti aku mampu menciptakan sesuatu teknologi yang sangat bermanfaat bagi umat manusia. Sekarang sejak aktif menulis lagi, pikiranku tentang masa depan yang akan kujalani kelak jadi berubah, aku ingin menjadi seorang ahli IT, tapi juga ingin menjadi seorang jurnalis atau minimal sebagai penulis sejati yang mampu melahirkan mahakarya yang besar…
Bagiku menjadi apapun kelak yang penting apa yang kita lakukan dan hasilkan membawa manfaat besar bagi umat manusia, terlebih diri sendiri dan keluarga. Cita-cita bukan hanya untuk menghasilkan uang kan?
Dan akhirnya, aku memilih untuk mengembangkan apapun potensi yang sudah dikaruniakan Tuhan padaku..dengan keseriusan tentu saja. Karena bagiku ketika kita mengacuhkan potensi yang ada, bisa saja potensi itu kemudian pergi dan tidak akan kembali lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)