Minggu, 22 Februari 2009

Bolos lagi..bolos lagi

Sebelumnya saya pikir budaya membolos itu hanya dilakukan oleh anak-anak sekolah saja yang ketika merasa bosan mengikuti rutinitas sekolah akhirnya membuat budaya bolos demi menghilangkan kejenuhan tersebut. Tetapi ternyata ga’ Cuma anak sekolah yang identik dengan bolos-membolos, para elit politik sampai pegawai pemerintahan pun tidak mau kalah dengan anak sekolah dalam hal membudayakan membolos.
Baru-baru ini marak pemberitaan tentang anggota dewan yang mangkir dari tugas, sering tidak datang ketika rapat paripurna atau rapat untuk mengesahkan rancangan Undang-Undang (RUU) alias bolos atau absensi siluman, tandatangan ada tapi wujudnya tidak ada. Saya pun teringat budaya yang sama dikampus ketika cukup banyak teman-teman yang tidak mengikuti perkuliahan dengan berbagai macam alasan, dosen killer, sakit, malas atau sekedar mojok alias pacaran sering menitipkan pesan kepada teman lain yang mengikuti perkuliahan : “eh nitip absen ya” baik lewat SMS atau bicara langsung. Berhubung dosen yang bersangkutan tidak terlalu meneliti keaslian tandatangan mahasiswanya maka tidak ada masalah walaupun yang rugi ya mahasiswa…tapi ada dosen yang memenuhi ebsensi mahasiswa dengan pemanggilan nama..nah kalo yang ini pastilah ketahuan ada tandatangan aspal alias ali tapi palsu.
Kembali ke dewan, mungkin hampir mirip saja ketika tiba-tiba tandatangan anggota dewan ada tapi wujud fisiknya tidak ada, lalu apa alasan mereka mangkir dari tugas padahal mereka adalah perwakilan dari rakyat yang seharusnya menyuarakan aspirasi rakyat? Padahal lagi, tuntutan anggota dewan sangat banyak mulai dari kenaikan gaji, tunjangan sampai fasilitas yang lain yang sangat menghabiskan anggaran Negara yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat, tapi pekerjaan yang mereka lakukan hanya duduk santai, sedikit bicara bahkan sampai berani membolos dari tugasnya !
Nah selain anggota dewan yang terhormat yang juga punya budaya bolos, ada juga pegawai pemerintahan yang punya “hobi” sama dengan anggota dewan..ketika berbelanja ke pasar, saya pastikan ada saja PNS “nakal” yang berkeliaran di Pasat, tidak hanya para ibu tapi juga bapak-bapak, entah apakah ada hubungan antara pekerjaan mereka dengan pasar, padahal jam ditangan saya masih menunjukkan pukul 11 siang, dan setau saya waktu istirahat bagi pegawai pemerintahan itu jam 12 siang. Entah mungkin di kantor setempat sedang tidak ada pekerjaan atau apa, tapi yang jelas bukankah kantor pemerintahan itu tugasnya adalah melayani kebutuhan masyarakat, jadi kalo ada masyarakat yang tiba-tiba datang ke kantor pemerintahan tersebut untuk mengurusi sesuatu yang sangat penting tapi si pegawai tidak berada ditempat, bukankah itu sangat merugikan masyarakat yang bersangkutan? Iya kalo tidak berada ditempat karena urusan dinas luar tapi kalo dinas luar yang terselubung?
Pemerintahan sekarang kan mencanangkan system pelayanan “good governance” dimana setiap kantor pemerintahan mulai dari bawah sampai pusat harus mampu menciptakan pelayanan terbaik bagi masyarakat yang membutuhkan terutama kenyamanan dalam mendapatkan pelayanan…tapi kalo sering terlihat pegawai yang membolos pada jam kerja gimana dong? Entah apakah kepala pemerintahan setempat sudah punya sanksi untuk pegawainya yang sering keluar pada saat jam kerja diluar pekerjaannya, kalo memang punya mungkin kalo saya tiba-tiba “sidak” alias inspeksi mendadak ke Pasar pada jam kerja dan masih melihat PNS yang berkeliaran berarti memang kepala pemerintahannya yang tidak tegas dan terkesan tidak peduli atau mungkin kepala pemerintahannya juga punya “hobi” yang sama dengan para staf-nya?
Saya pikir baik anggota dewan maupun pegawai pemerintahan masing-masing sudah punya kode etik sendiri dan aturan serta sanksi yang harus diterapkan, toh jika memang sedang tidak ada pekerjaan itu tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk meninggalkan tempat kerja kan? Apalah lagi bagi anggota dewan, disana mereka membawa nama rakyat tapi kalo suka bolos juga saya sarankan jangan lagi memilih anggota dewan tersebut pada Pemilu 2009 nanti ! satu hal yang saya pikir sangat efektif membuat jera anggota dewan adalah dengan mengumumkan kepada rakyat siapa saja si “raja bolos”..malu..malu deh.. biar rakyat tahu dan tertutuplah kemungkinan anggota tersebut akan terpilih lagi nantinya..wong anak sekolah aja yang suka bolos kena setrap berdiri ditiang bendera..apalah lagi buat anggota dewan..harus lebih “tragis” lagi hukumannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar